Pada zaman Yunani Kuno, tradisi yang berjalan lebih bersifat lisan, dimana informasi dan berita disebarkan dari mult ke mulut, tidak ad surat kabar, radio apalagi televisi bahkan internet seperti saat ini. Pada zaman itu juga tidak ada ahli hukum, sehingga tiap warga yang dituntut harus mampu dan fasih untuk berbicara membawakan argumentasinya sendiri dalam sidang pengadilan. Demikian halnya jika ingin sukses dan terpilih dalam bidang politik, juga di syaratkan harus mampu berbicara, sehingga dapat menarik simpati rakyat untuk memilih atau menentang seseorang. Meskipun terkadang demi pencapaian tujuan tersebut dalam pelaksanaannya terjadi pemutarbalikan kenyataan bahkan kebenaran. Kaum sofis, adalah pihak yang di anggap telah memperkenalkan dan mengajarkan ilmu retorika demikian.
Filsafat sofisme ini kemudian diadaptasi oleh Georgias (480-370) yang di anggap sebagai guru pertama yang mengajarkan ilmu retorika di Yunani. Namun pendapat ini ditentang oleh Protogoras (500-430) dan Socrates (469-399), Protogoras mengatakan bahwa "Kemahiran Berbicara Bukan Demi Kemenangan, Melainkan Demi Keindahan Bahasa"
Sendangkan Bagi Socrates, "Retorika adalah demi kebenaran dengan dialog sebagai tekniknya karena dengan dialog, kebenaran akan timbul dengan sendirinya" Hal ini menjelaskan, bahwa pada zaman Yunani kuno, keberhasilan hidup sala satunya di tentukan oleh keterampilan dalam seni berbicara atau Retorika, terutama untuk mereka yang berkeinginan untuk duduk dalam pemerintahan dan dalam rangka upaya mempengaruhi rakyat.
Namun, puncak peranan retorika baru muncul setelah hadirnya dua pakar retorika, yakni Demosthenes dan Aristoteles, yang hingga kini masih dipelajari ilmunya. Demosthenes (384-322) termasyur karena kegigihannya mempertahankan kemerdekaan Athena dari ancaman raja Philipus dari Mecedonia. Kurang lebih terdapat 61 naskah pidato Demosthenes yang hingga kini masih tersimpan, diantaranya yang terindah adalah naskah pidato yang bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berjudul "Tentang Karangan Bunga". yang merupakan pidato sambutan terhadap pemujaan rakyat kepadanya, pada saat ia berhasil menyingkirkan lawannya, Aichines.
Sendangkan Aristoteles, seorang ahli Logika. Filasafat. Sophist (guru retorika) dan tokoh terkemuka dalam berbagai disiplin ilmu,
Aristoteles : Anda dalam Retorika terutama menggelorakan emosi, itu memang baik, tetapi ucapan-ucapan anda tidak dipertanggungjawabkan. Tujuan retorika yang sebenarnya adalah membuktikan maksud pembicaraan atau menampakkan pembuktiannya. Ini terdapat pada logika. Retorika hanya menimbulkan perasaan seketika, meski lebih efektif daripada silogisme. pernyataan pokok bagi logika dan bagi retorika akan benar apabila telah diuji oleh dasar-dasar logika.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar